• SELAMAT DATANG DI AKBID MUHAMMADIYAH CIREBON • Menjadi Institusi Pendidikan Kebidanan Yang Berkualitas Dan Berakhlakul Karimah •

Pseudosiesis, Kehamilan Tanpa Janin

Terlambat menstruasi hingga beberapa waktu, diikuti munculnya tanda-tanda kehamilan seperti mual, morning sickness dan naik berat badan, tentu dicurigai menjadi pertanda hamil pada seorang perempuan. Namun ketika dilakukan pemeriksaan USG tidak ditemukan adanya janin di rahim. Apa yang terjadi? Ini bukan karena janin menghilang, namun bisa jadi karena hamil palsu.

Hamil palsu, disebut juga pseudosiesis, alias kehamilan imaginer. Menurut Wikipedia, kasus pseudocyesis telah didokumentasikan sejak jaman dahulu. Hippocrates memberi catatan tertulis pertama sekitar 300 SM ketika ia mencatat 12 kasus wanita dengan gangguan tersebut. John Mason Good menggunakan istilah pseudocyesis dari kata Yunani, yakni pseudes (palsu ) dan kyesis (kehamilan) pada tahun 1923.

Hamil palsu atau yang disebut pseudocyesis adalah suatu kondisi dimana seorang perempuan yang tidak hamil namun merasa atau percaya bahwa dirinya sedang hamil, meskipun tidak ada bukti fisik kehamilan. Tidak menstruasi, morning sickness, mengidam, sakit di bagian perut dan pembesaran payudara adalah gejala-gejala yang dikeluhkan penderita hamil palsu.

Perempuan yang mengalami kehamilan palsu atau disebut pseudopregnancy seringkali mengalami gejala kehamilan yang nyata seperti perempuan hamil pada umumnya. Meskipun kondisi ini belum sepenuhnya dapat dijelaskan, para ahli percaya penyebab utamanya adalah masalah emosional dan psikologis.

Perempuan yang mengalami hamil palsu, rahimnya dalam kondisi kosong dalam arti tidak terdapat janin, namun penderita mengeluhkan gejala yang biasa dialami oleh seseorang yang benar-benar hamil.

Penyebab Pseudosiesis

Sebuah penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara kehamilan palsu dengan kelenjar pituitary (pusat produksi hormon selama kehamilan). Ketidakseimbangan hormon ini sering dipicu oleh stres dan kecemasan, sehingga dapat menyebabkan perubahan emosi dan psikologis yang mengarah pada kepercayaan atas sesuatu yang sangat diharapkannya.

Perempuan yang mengalami kondisi ini biasanya dianjurkan untuk melakukan konseling, karena penyebab dasarnya adalah emosional dan psikologis termasuk stres, gelisah dan depresi.

Para psikolog percaya bahwa perempuan yang mengalami kehamilan palsu memiliki keinginan yang sangat kuat untuk hamil, sehingga dirinya merasa mengalami proses kehamilan. Perempuan yang beresiko mengalami hamil palsu ini, diantaranya:

  • Usia akhir 30 atau awal 40 tahun dan belum memiliki anak
  • Pernah mengalami keguguran pada kandungan sebelumnya
  • Sangat ingin punya anak lagi, karena anak yang kecil sudah layak punya adik lagi
  • Di lingkungannya ada perempuan yang sedang hamil
  • Faktor stres dan kecemasan, terutama yang menyangkut kehamilan

Pada kehamilan pseudosiesis secara psokologis ada sikap yang ambivalen terhadap kehamilannya yaitu ingin sekali menjadi hamil, sekaligus di barengi ketakutan untuk merealisir keinginan punya anak, sehingga terjadi proses inhibisi.

Keinginan – keinginan tersebut dibarengi rasa bersalah dan dorongan untuk menghukum diri sendiri yang kemudian di kompensasikan dalam bentuk agresivitas, secara simultan, berbarengan muncul kesediaan untuk tidak menyadari bahwa kehamilannya ilusi belaka. Oleh komponen yang kontradiktif ini biasanya wanita tidak mau ke dokter untuk memeriksakan dirinya.

Penyebab yang pasti dari hamil palsu belum diketahui. Tetapi faktor yang sangat sering berhubungan dengan terjadinya Kehamilan palsu adalah faktor emosional/psikis yang menyebabkan kelenjar pituitary terpengaruh sehingga menyebabkan kegagalan system endokrin dalam mengontrol hormone yang menimbulkan keadaan seperti hamil.

Jadi, kebanyakan kejadian hamil palsu ini disebabkan factor psikologis dimana karena keinginan yang besar dari wanita untuk memiliki anak atau bisa juga karena ingin menghindari kehamilan.

Pengobatan tergantung sejauh mana kepercayaan pasien terhadap delusi/khayalannya, perlunya dukungan dari pasangan hidup dan juga keluarga untuk mengatasinya. Untuk suatu keadaan yang berat dimana penderita benar-benar merasa yakin kalau dia hamil dan keadaan ini sampai menimbulkan depresi maka konseling psikologis atau psikiater mungkin diperlukan. Hamil palsu ini frekuensinya sangat jarang yaitu 1-6 per 22.000 persalinan.

Sumber : http://majalahbidan.com

  • Like!
    0

Facebook Comments: